dalam tubuh terlatih seorang petarung sejati milikku, terdapat roh yang lapuk oleh perang. dia memiliki jiwa yang kerdil. tersembunyi disana, ketakutan terbesarku melebihi phobia dan masalah keimanan....
orang-orang menyebutnya "Impian Masa Depan". tapi bagiku itu tak lebih dari sekedar skenario yang harus kuperankan.
tapi karena Tuhan sutradaraku, aku berjanji akan bersinar untukNYA.
(catatan pengukuh iman yang ditulis dengan skeptis oleh seorang petarung tunggal)
Rabu, 12 Mei 2010
Selasa, 04 Mei 2010
sekilas pemikiran
“Kenapa aku BARU menyadari kalau otoritas orang tua bisa jadi sangat mengerikan?”
Pertanyaan sekaligus pernyataan itu muncul begitu saja di kepalaku hari itu...
Semua berawal saat detik-detik menjelang ujian nasional mulai mendekat. Saat itu semua perguruan tinggi mulai membuka penerimaan mahasiswa baru, dan momen itu disambut siswa-siswa senior SMA dengan penuh antusias. Dan selayaknya seorang siswa yang mempunyai impian dan rencana masa depan, tentu saja aku juga ikut menyibukkan diri dengan mendaftar berbagai jalur masuk penerimaan mahasiswa baru di berbagai universitas.
Saat itu aku menyadari, jalanku menuju dunia kuliah tidak akan mudah. Bukan masalah dana kuliah, karena orang tuaku terbilang mampu. Bukan juga masalah minat melanjutkan sekolah, karena aku suka sekolah... Tapi masalah penentuan pilihan. Aku tahu proses pemilihan jurusan itu akan jadi proses yang paling menyakitkan diantara proses kehidupanku yang lain. Dalam hidupku, setiap kali aku dihadapkan pada titik dimana aku harus memilih, aku akan selalu tersakiti. Aku tidak pernah membuat pilihan dalam hidupku. Itu semua karena seseorang. Seseorang itu adalah orang yang adikuasa dan bisa menentukan segalanya untukku. Hanya satu orang, dan dia bukan Tuhan. Tapi kekuasaannya bisa sangat mengerdilkan.
Selasa, 13 April 2010
all about believes
Titel : TOOTH FAIRY
Director : Michael Lembeck
Artist : Dwayne Johnson, Julie Andrews, Ashley Judd, Stephen Merchant, Chase Ellison, Destiny Grace Whitlock.
Genre : Drama keluarga
TOOTH FAIRY, All About Believes
Kisah seorang pemain hockey senior pesimistis yang membenci impian, Derek Thompson (Dwayne Johnson). Dia dijuluki “Tooth Fairy” karena setiap pemain lawan yang dijatuhkannya pasti akan kehilangan gigi mereka. Dan dia bangga dengan julukan itu. Well, cukup aneh mengingat dia sendiri nggak percaya adanya Tooth Fairy dan teman-teman senegeri dongengnya. Derek memiliki sifat buruk, yaitu suka membunuh impian orang-orang dengan kalimat semacam, “rendahkan pengharapanmu” atau “lupakan impianmu” dan sebagainya, yang selalu berhasil membuat lawan bicaranya pesimis.
Sebagai akibat dari ketidakpercayaannya,
Kamis, 08 April 2010
Ketololan 2 'ekor' Pelajar Miskin
07 April 2010
Suatu hari, dua orang siswi SMU yang berteman dekat ngenet bareng di sebuah warnet deket sekolah mereka. Mereka mau ngerjain tugas dari guru TIK yang nyuruh mereka membuat blog.
Awalnya, mereka sama sekali nggak berminat - alasan jujurnya adalah karena mereka nggak ngerti tentang blog. Tapi, bermodal nekat dan tanya kanan-kiri, akhirnya jadilah blog masing-masing. Sedikit demi sedikit mereka mulai menyukai situs tulis menulis ini. Sampai saking asyiknya, mereka lupa waktu dan lupa membayar.
Barulah setelah capek mantengi komputer selama berjam-jam, sadarlah mereka kalo mereka sedang ol di warnet, yang artinya mereka harus bayar, dong! Nah, ketololan pertama pun terjadi:
Si A ternyata cuma bawa uang 5ribu, terpaksa dia minjem sama temennya, si B. Sedangkan si B meskipun bawa uang serep, habisnya 10ribu. Biar uangnya mepet, seenggaknya mereka masih sanggup mbayar.
Keluar dari warnet, mereka langsung ke jalana raya, nyegat bus, mau pulang. Pas dua-duanya lagi pada ngitungin sisa uang buat naik bus, tiba-tiba melintaslah sebuah bus AC menuju arah tujuan mereka. Tiba-tiba si B bilang, "eh, naik itu aja, yok!" sambil menyeret si A. Si A yang nggak begitu aware ya manut aja ditarik temennya naik bus AC itu.
Suatu hari, dua orang siswi SMU yang berteman dekat ngenet bareng di sebuah warnet deket sekolah mereka. Mereka mau ngerjain tugas dari guru TIK yang nyuruh mereka membuat blog.
Awalnya, mereka sama sekali nggak berminat - alasan jujurnya adalah karena mereka nggak ngerti tentang blog. Tapi, bermodal nekat dan tanya kanan-kiri, akhirnya jadilah blog masing-masing. Sedikit demi sedikit mereka mulai menyukai situs tulis menulis ini. Sampai saking asyiknya, mereka lupa waktu dan lupa membayar.
Barulah setelah capek mantengi komputer selama berjam-jam, sadarlah mereka kalo mereka sedang ol di warnet, yang artinya mereka harus bayar, dong! Nah, ketololan pertama pun terjadi:
Si A ternyata cuma bawa uang 5ribu, terpaksa dia minjem sama temennya, si B. Sedangkan si B meskipun bawa uang serep, habisnya 10ribu. Biar uangnya mepet, seenggaknya mereka masih sanggup mbayar.
Keluar dari warnet, mereka langsung ke jalana raya, nyegat bus, mau pulang. Pas dua-duanya lagi pada ngitungin sisa uang buat naik bus, tiba-tiba melintaslah sebuah bus AC menuju arah tujuan mereka. Tiba-tiba si B bilang, "eh, naik itu aja, yok!" sambil menyeret si A. Si A yang nggak begitu aware ya manut aja ditarik temennya naik bus AC itu.
Rabu, 07 April 2010
"BAKAT" Bukan Sekedar "PLAGIAT"
Bagi seorang anak, memiliki bakat itu rasanya luar biasa. Rasanya seperti menjadi kaya mendadak dan memiliki istana super megah dengan dinding berlapis emas yang didalamnya terdapat brankas-brankas besi yang isinya bukan emas atau uang, melainkan gunungan permen dan coklat, dan istana itu memiliki garasi seluas lapangan parkir tempat menyimpan selusin mobil mewah yang tak mungkin terbeli oleh gaji orang tua mereka. Dan kekayaan itu tidak akan habis. Ya, memang sehebat itu rasanya. Itulah sebabnya, kenapa orang tua wajib menggali dan mengembangkan bakat anak-anak mereka.
Tapi masalahnya, kebanyakan orang tua terlalu tidak peduli pada bakat apa yang dimiliki anak. Mereka terlalu sibuk, bahkan untuk sekedar tahu hal apa yang disukai dan diinginkan anak. Jika anak tidak bercerita, orang tua juga tidak bertanya. Kalau pun tidak sibuk, mereka tidak membiarkan anak menemukan sendiri bakat mereka. Orang tua mendikte anak untuk melakukan hal-hal yang tidak dikuasai anak, hanya karena anak teman mereka juga melakukannya, atau karena kegiatan itu sedang populer, atau lebih parah; karena orang tua menginginkannya. Mereka memaksa anak untuk menjadi ‘anak idaman’ dan tidak membiarkan anak menjadi diri mereka sendiri. Dan ketika si anak mulai lelah menjadi ‘boneka idaman’ orang tuanya, mereka dicap sebagai pemberontak.
Langganan:
Postingan (Atom)